FINAL BAHASA INGGRIS

 BAHASA INGGRIS 

“SOUTH SULAWESI FOLKLORE” 

OLEH: 

NAMA: MAULANA DIEN ISLAMIA 

NIM: 210407502033 

KELAS: M21.2 

DOSEN PENGAMPU: 

PROF. DR. ROHANA S.PD, M.PD 

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN 

UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 

2021/2022

KATA PENGANTAR 

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat-Nya sehingga makalah ini 

dapat tersusun sampai dengan selesai. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih terhadap 

bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik pikiran 

maupun materinya. 

Penulis sangat berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman 

bagi pembaca. Bahkan kami berharap lebih jauh lagi agar makalah ini bisa pembaca 

praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi kami sebagai penyusun merasa bahwa masih 

banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini karena keterbatasan pengetahuan dan 

pengalaman Kami. Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun 

dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini. 

Makassar, 15 Desember 2021 

Penulis

DAFTAR ISI 

SAMPUL 

KATA PENGANTAR~i 

DAFTAR ISI~ii 

BAB I~1 

A. Latar Belakang~1 

B. Rumusan Masalah~1 

C. Tujuan~1 

BAB II~2 

A. Cerita Maipa Deapati & Datu Museng~2 

B. Unsur Interistik dari Cerita Maipa Deapati & Datu Museng~7 

BAB III~8 

A. Kesimpulan~8 

B. Saran ~8 

DAFTAR ISI~9

BAB I 

PENDAHULUAN 

A. Latar Belakang 

Cerita rakyat adalah cerita yang berasal dari masyarakat dan berkembang dalam 

masyarakat pada masa lampau yang menjadi ciri khas setiap bangsa yang memiliki 

kultur budaya yang beraneka ragam mencakup kekayaan budaya dan sejarah yang 

dimiliki masing-masing bangsa. Pada umumnya, cerita rakyat mengisahkan tentang 

suatu kejadian di suatu tempat atau asal muasal suatu tempat. Tokoh-tokoh yang 

dimunculkan dalam cerita rakyat umumnya diwujudkan dalam bentuk binatang, 

manusia maupun dewa. 

B. Rumusan Masalah 

1. Bagaimana cerita Maipa Deapati & Datu Museng 

2. Bagaimana unsur interistik dari cerita Maipa Deapati & Datu Museng 

C. Tujuan Pembahasan 

1. Mengetahui bagaimana cerita Maipa Deapati & Datu Museng 

2. Mengetahui unsur interistik dari cerita Maipa Deapati & Datu Museng

BAB II 

PEMBAHASAN

A. Cerita Maipa Deapati & Datu Museng 

Kisah cinta nan mengharukan antara Datu Museng dan Maipa Deapati ini berangkat 

dari cerita rakyat yang sangat populer dikalangan masyarakat Makassar, yang 

dituturkan oleh orang-orang tua kepada anak cucu mereka, agar mereka dapat 

memetik hikmah dari pendidikan, perjuangan dan kesetiaan. 

Begitu hebatnya cerita antara Datu Museng putra bangsawan kerajaan Gowa dan 

Maipa Deapati Putri bangsawan Kerajaan Sumbawa ini tertanam di dalam benak 

orang-orang makasar, sehingga kemudian nama dari kedua tokoh legendaris ini 

diabadikan sebagai nama jalan di Kota Makassar. Nama jalan itu seakan sengaja 

dibuat berdampingan saling berdekatan seakan-akan Pemerintah Kota Makassar turut 

merestui hubungan percintaan abadi mereka berdua. 

Kisah percintaan Datu Museng dan Maipa Deapati ini berawal ketika Addengareng 

kakek dari Datu Museng melarikan diri bersama cucunya menyebarangi lautan nan 

luas menuju ke negeri Sumbawa, akibat dari politik adu domba yang dilancarkan 

penjajah belanda di tanah Gowa, yang membuat bumi Gowa bergejolak dan tidak 

kondusif lagi untuk dijadikan tempat tinggal yang aman. 

Di Pulau sumbawa akhirnya itulah Datu Museng tumbuh menjadi seorang yang 

dewasa dan bertemu dengan Maipa Deapati di sebuah rumah Pengajian bernama Bale 

Mapewa. 

Akhirnya tumbuh benih cinta dihati Datu Museng sejak pertama kali melihat sosok 

Maipa Deapati yang anggun dan mempesona. 

Namun cinta dari Datu Museng kepada Maipa Deapati menjadi sebuah cinta yang 

terlarang karena Maipa Deapati telah ditunangkan dengan seorang pangeran dari 

Selaparang Lombok bernama Pangeran Mangalasa. 

Setelah kakek Datu Museng mengetahui bahwa cucunya mencintai Maipa Deapati, 

alangkah terkejutnya sang kakek. Sang kakek merasa malu.

Ia menganggap cucunya hanyalah sebongkah emas yang telah terkotori oleh lumpur, 

sedangkan Maipa Deapati adalah Putri seorang bangsawan bak sebongkah mutiara 

yang belum tersentuh dan tidak pantas disunting Datu Museng. 

Datu Museng mengetahui bahwa cintanya kepada Maipa Deapati terhalang oleh 

tembok yang kokoh, maka atas anjuran sang kakek, berangkatlah Datu Museng ke 

tanah Suci Mekkah untuk berguru. Disanalah ia mendapatkan ilmu Bunga Ejana 

Madina. Kepergian Datu Museng ke tanah Mekah ternyata bukannya membuat kedua 

insan yang saling mencinta ini menjadi terpisah, melainkan perpisahan itu malah 

semakin membuat ikatan hati antara keduanya semakin kuat. 

Selepas mendapatkan ilmu di tanah rantau, maka Datu Museng pulang kembali ke 

Sumbawa dengan membawa rindu membarakepada Maipa Deapati. 

Sesampainya di Sumbawa ternyata sang kekasih yang dirindukan dalam keadaan 

sakit,dan Datu Museng pun mengobati Maipa Deapati dengan ilmu yang 

didapatkannya dari tanah Mekkah. 

Mendengar kabar bahwa sang tunangan Maipa Deapati mencintai Datu Museng, 

membuat perasaan cemburu di hati Pangeran Mangalasa bergejolak dan tentunya sakit 

hati. 

Pangeran Mangalasa lantas bersekutu dengan Belanda dengan tujuan untuk 

membunuh Datu Museng. Tetapi Datu Museng yang teramat sakti itu tak dapat 

dikalahkan oleh Pangeran Mangalasa dan Belanda. 

Akhirnya Datu Museng mendapat restu dari Sultan Sumbawa, merekapun lantas 

dinikahkan dan Datu Museng diberikan pangkat sebagai Pangllima perang. 

Belum beberapa lama menikah, berhembus kabar bahwa di Makassar tengah 

bergejolak kekacauan yang disebabkan oleh pemerintah Belanda yang berkuasa 

ditanah Makassar. 

Datu Museng yang telah menjadi panglima perang itu kemudian kemudian dikirim ke Makassar oleh Sultan Sumbawa atas permintaan Raja Goa untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Maka berangkatlah Datu Museng dan istrinya Maipa Deapati ke tanah Makassar. 

Setibanya di Makassar, Datu Museng mendapatkan tantangan lain karena Kapten dari 

Belanda itu justru mencintai Maipa Deapati, dan melancarkan berbagai macam teror 

dan serangan kepada Datu Museng untuk merebut Maipa Deapati dari Datu Museng. 

Akibatnya Datu Museng pun terdesak akibat serangan Belanda tersebut. Namun bagi 

Maipa Deapati cintanya ke Datu Museng adalah harga mati baginya, ia tidak 

mengijinkan seorang pun untuk mengambilnya dari Datu Museng. 

Sang kekasih Maipa Deapati lantas meminta kepada Datu Museng untuk 

membunuhnya, sebab cintanya kepada Datu Museng hanya untuk Datu Museng 

seorang, ia merasa lebih baik mati daripada harus menyerahkan dirinya kepada 

Belanda. 

Dengan sangat berat hati Datu Museng lantas mengabulkan permintaan sang istri, 

iapun lantas menikamkan Badik pusakanya ke leher sang kekasih tercinta. 

Setelah itu, karena rasa cinta yang dalam kepada istrinya Maipa Deapati, Datu 

Musengpun lantas melepaskan semua ilmu ilmu yang dimilikinya, membiarkan 

dirinya dibunuh oleh penjajah Belanda. 

Kisah inilah yang terus dikenang oleh masyarakat Makassar hingga saat ini, kisah 

percintaan Romeo And Juliet Versi Makassar. 

The story of Maipa Deapati & Datu Museng 

This touching love story between Datu Museng and Maipa Deapati departs from a 

folk tale that is very popular among the people of Makassar, which is told by parents 

to their children and grandchildren, so that they can learn lessons from education, 

struggle and loyalty. 

So great is the story between Datu Museng, the son of a nobleman from the Gowa 

kingdom and Maipa Deapati, a noble daughter of the Sumbawa Kingdom, that was 

embedded in the minds of the Makassar people, so that the names of these two 

legendary figures were immortalized as street names in Makassar City. The name of the street seemed to be deliberately made side by side close to each other as if the 

Makassar City Government also approved their eternal love relationship. 

The love story of Datu Museng and Maipa Deapati began when Adheareng, the 

grandfather of Datu Museng, fled with his grandson across the vast ocean to the land 

of Sumbawa, as a result of the politics of fighting against each other by the Dutch 

colonialists in the land of Gowa, which made the land of Gowa volatile and not 

conducive anymore. to be a safe place to live. 

It was on Sumbawa Island that finally Datu Museng grew into an adult and met Maipa 

Deapati at a study house called Bale Mapewa. 

Finally, the seed of love grew in Datu Museng's heart since he first saw the graceful 

and charming figure of Maipa Deapati. 

However, Datu Museng's love for Maipa Deapati became a forbidden love because 

Maipa Deapati had been betrothed to a prince from Selaparang Lombok named Prince 

Mangalasa. 

After Datu Museng's grandfather found out that his grandson loved Maipa Deapati, 

his grandfather was surprised. The grandfather was embarrassed. 

He considers his grandson to be just a lump of gold that has been polluted by mud, 

while Maipa Deapati is the daughter of an aristocrat like a lump of pearl that has not 

been touched and does not deserve to be edited by Datu Museng. 

Datu Museng knew that his love for Maipa Deapati was blocked by a solid wall, so at 

the suggestion of his grandfather, Datu Museng went to the Holy Land of Mecca to 

study. It was there that he got the knowledge of Bunga Ejana Madina. Datu Museng's 

departure to the land of Mecca did not make the two people who love each other 

separate, but the separation made the bond between the two even stronger. 

After gaining knowledge in overseas lands, Datu Museng returned to Sumbawa with a burning longing for Maipa Deapati.


Arriving in Sumbawa, it turned out that the lover he missed was sick, and Datu 

Museng also treated Maipa Deapati with the knowledge he got from the land of 

Mecca. 

Hearing the news that Maipa Deapati's fiancé loved Datu Museng, made Prince 

Mangalasa's feelings of jealousy flare up and of course hurt. 

Prince Mangalasa then allied with the Dutch with the aim of killing Datu Museng. But 

the very powerful Datu Museng could not be defeated by Prince Mangalasa and the 

Netherlands. 

Finally Datu Museng got the blessing of the Sultan of Sumbawa, they were then 

married and Datu Museng was given the rank of Commander of the War. 

Not long after being married, news circulated that in Makassar there was turmoil 

caused by the Dutch government in power in Makassar. 

Datu Museng who had become a warlord was then sent to Makassar by the Sultan of 

Sumbawa at the request of the King of Goa to resolve the problem. 

So Datu Museng and his wife Maipa Deapati went to Makassar. Arriving in 

Makassar, Datu Museng faced another challenge because the Dutch captain actually 

loved Maipa Deapati, and launched various kinds of terror and attacks on Datu 

Museng to seize Maipa Deapati from Datu Museng. 

As a result, Datu Museng was pressed by the Dutch attack. But for Maipa Deapati her 

love for Datu Museng is a dead price for her, she does not allow anyone to take it 

from Datu Museng. 

Maipa Deapati's lover then asked Datu Museng to kill him, because his love for Datu 

Museng was only for Datu Museng, he felt he would rather die than surrender himself 

to the Dutch. 

With a very heavy heart, Datu Museng then granted his wife's request, he then 

stabbed his heirloom Badik into the neck of his beloved lover.

After that, because of his deep love for his wife Maipa Deapati, Datu Museng then 

gave up all the knowledge he had, allowing himself to be killed by the Dutch 

colonialists. 

This is the story that the people of Makassar continue to remember to this day, the 

love story of Romeo And Juliet Makassar Version. 

B. Unsur Interistik dari Cerita Maipa Deapati & Datu Museng 

1.Tema: Kisah cinta sepasang kekasih 

2.Tokoh: 

- Datu Museng 

- Maipa Deapati 

- Addengareng (kakel Datu Museng) 

- Pangeran Mangalasa 

- Sultan Sumbawa 

- Raja Gowa 

- Kapten Pasukan Belanda 

3.Alur: Maju 

4.Sudut pandang: Orang ketiga

BAB III 

PENUTUP 

A. Kesimpulan 

Hampir setiap daerah di Indonesia mempunyai cerita rakyat yang berbeda dan 

menarik. Kondisi tersebut yang mendasari mengapa cerita rakyat selalu dikenalkan 

sejak dini pada anak-anak. Itulah mengapa, penting sebagai generasi berikutnya untuk 

terus melestarikan budaya yang ada di Indonesia melalui ceruta rakyat. 

B. Saran 

Dari cerita rakyat kita bisa mengambil hikmah dari kejadiannya dan dijadikan 

pembelajaran dalam hidup kita agar menjadi pribadi yang lebih baik.

DAFTAR ISI 

https://mediaindonesia.com/humaniora/431439/contoh-kata-pengantar-untuk-tugas-

makalah-karya-ilmiah-dan-laporan

https://sumbawakab.go.id/cerita-rakyat/13/kisah-percintaan-datu-musing-dan-mipa-

deapati.html

Komentar